Ahad, 8 Disember 2013

Arjuna Beta

Aku sedih. Sebab sampai ke hari ni, masih ada lagi yang baca tulisan tentang arwah Khalid. Padahal diri sendiri dua tiga hari ni dah terlampau jarang nak fikir pasal dia. Aku masih sedih. Aku masih berkabung. Tapi aku tak cukup kuat nak tahan tekanan belajar dan tekanan kawan baik meninggal sekaligus.

I need a break. 

Aku yakin, bila dah habis periksa penggal satu nanti, aku akan banyak habiskan masa dengan menangis. Kelakar bukan? Siapa tahu, perempuan yang kasar, yang selalu hidup seakan bisa sendiri-sendiri, yang sok hebat seolah-olah dia yang paling gah, dalam diam dia menangis di tepi ranjang.

Siapa tahu?

---

Sudah tiga bulan dan masih menunggu. Tak pernah aku tundukkan nasib seratus peratus pada Tuhan seperti ini. Kalaulah tuan punya badan sememangnya Zakiah Nurmala, dan aku sememangnya Arai, pasti kudaki gunung Selumar demi sekuntum bunga krisan yang tumbuhnya jarang-jarang tiap tahun.

Tapi indifference-nya si Zakiah mencucuk aku. Buat aku tak keruan bila sendiri-sendiri. Betapa aku benci menunggu. Seolah-olah hidup dianiaya pencuri masa. Bisa-bisa saja aku menangis seperti kelmarin tika masaku dicuri dua orang teman. Tapi Allah itu Maha Besar, diberikan aku nikmat tiga bulan. Tiga bulan sudah sejak aku mulakan langkah dengan lafaz bismillah. Hendak dikata retak hati jika ditolak, memang sudah retak walaupun sebelum ditolak. Aku serahkan saja pada pihak berkuasa. Apalagi aku banyak yang kurang. Tidak setaraf.

Cuma bisa bermimpi-mimpi. Agar dikasihi Ilahi. Agar dikasihi Zakiah Nurmala. Karena setiap mimpi itu percuma. Walau sekadar fantasi, bisa saja menghiburkan hati.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan