Ini surat yang keberapa entah--
Terlampau banyak surat terangka
Tiada satu pun yang terhantar
Sedih,
Pedih,
Siapa kata aku tak rasa keduanya?
Cuma sekadar bisa menafi-nafikan
Yang jelas di depan mata
Namun Allah lebih besar pengetahuan-Nya
Memang betul sangkaku dulu--
Aku sememangnya Arai
Dan kau,
Kaulah Zakiah Nurmala yang terhormat.
Teringin rasanya hidup seperti Zakiah Nurmala
Yang kaya
Sentiasa disanjung Arai
Tidak menunggu
Tidak sayu
Tapi Arai hatinya besar
Sebesar lautan biru
Bila mengaji al-Quran, suaranya syahdu sekali
Sampaikan Ikal menangis teresak-esak
Dia pun sendiri-sendiri
Tidak punya ibu dan ayah
Seperti aku
Tidak punya ibu
Aku punya ayah, tapi jauh
Sejauh mata memandang
Malah lebih lagi
Ingatkah hari itu kau tunjuk dua garis lurus
Garis selari dan serenjang
Dan kau kata
Akan ada satu masa dalam hidup
Satu, kita tidak bertemu langsung
Sangat sedih
Dua, kita bertemu sekali
Kemudian tidak bertemu lagi
Yang mana bagimu lebih pedih
Kenapa aku fikir kita bukan keduanya?
Tahulah Zakiah Nurmala,
Aku seringkali berdoa--
Kalau aku menyukaimu
Cuma sekadar kerana rupamu
Atau hartamu
Atau pangkatmu
Atau darjatmu
Lebih baik aku dijauhkan dan menjauhkan.
Dan masihkah kau ingat 10:109?
Masihkah kau percaya?
Aku harap ya.
Hiduplah dengan baik di sana!
Aku bukan siapa.
Satu, kita tidak bertemu langsung
BalasPadamSangat sedih
Dua, kita bertemu sekali
Kemudian tidak bertemu lagi
Yang mana bagimu lebih pedih
I like this part of the poem.
Thanks Ena. Teruskan membaca blog saya yang tak seberapa ni. hehe :)
Padam