Dalam dunia:
Aku tahu, sebagian hatinya ingin aku tak pergi. Kukatakan pada ayah, aku akan terbang dua puluh jam dan transit di Hong Kong, ayah bersedekap, tercenung. Tak sedikit pun kenyataan itu difahaminya. Aerodinamika gelap baginya, ia bahkan tak paham erti kata 'transit'.
Ayah melepas aku seperti tak 'kan melihat aku lagi. Bagi beliau, Kanada tak terbayangkan jauhnya. Ayahku yang pendiam, tak pernah sekolah, puluhan tahun menjadi kuli kontrak. Paru-parunya disesaki gas-gas beracun, napasnya berat, tubuhnya kurus seperti kayu. Ia menatap aku seakan aku hartanya yang paling berharga, seakan Kanada akan merampas aku darinya. Air matanya mengalir pelan.
***
Dalam Edensor:
"Aku tahu, sebagian hatinya ingin kami tak pergi. Kukatakan pada ayah, kami akan terbang enam belas jam dan transit di Frankfurt, ayah bersedekap, tercenung. Tak sedikit pun kenyataan itu difahaminya. Aerodinamika gelap baginya, ia bahkan tak paham erti kata transit.
Ayah melepas kami seperti tak 'kan melihat kami lagi. Bagi beliau, Eropa tak terbayangkan jauhnya. Ayahku yang pendiam, tak pernah sekolah, puluhan tahun menjadi kuli tambang. Paru-parunya disesaki gas-gas beracun, napasnya berat, tubuhnya keras seperti kayu. Ia menatap kami seakan kami hartanya yang paling berharga, seakan Eropa akan merampas kami darinya. Air matanya mengalir pelan."
Tiada ulasan:
Catat Ulasan