Jumaat, 11 Oktober 2013

Lintang

"Ia [Bu Mus] sangat bangga pada murid-murid miskinnya, matanya berkaca-kaca dan dengan haru beliau berucap lirih, 'Subhanallah.. Subhanallah..' 

Selanjutnya, mekanisme lomba menjadi monoton, yaitu ibu cantik membacakan pertanyaan yang tak selesai, suara kriiiing, teriakan jawaban Lintang, dan pekikan seratussss dari Benyamin S. Aku terpaku memandang Lintang, betapa aku menyayangi dan kagum setengah mati pada sahabatku ini. Dialah idolaku. Pikiranku melayang ke suatu hari bertahun-tahun yang lalu ketika sang bunga pilea ini membawa pensil dan buku yang keliru, ketika ia beringsut-ingsut naik sepeda besar 80 kilometer setiap hari untuk sekolah, ketika suatu hari ia menempuh jarak sejauh itu hanya untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri. Dan hari ini dia meraja di sini-di mejelis kecerdasan yang amat terhormat ini."



Biar miskin harta, asalkan berilmu di dada.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan