Aku cuma pembaca biasa, yang suka berkongsi ayat-ayat atau perenggan-perenggan atau cerita-cerita cantik yang aku baca. Sebab aku faham sangat bukan semua orang ada masa untuk membaca. Bukan semua orang suka baca. Bukan semua orang baca apa aku baca. Aku pula tak baca apa yang semua orang baca. Kita tak serasi. Jadi kan bagus kalau boleh berkongsi dan asimilasi?
Tapi aku pun kadang-kadang fikir juga dua tiga kali bila nak post benda-benda panjang dekat Facebook. Rata-rata orang memang tak baca post panjang-panjang. Jenuh. Aku pun sama dua kali lima. Aku sedih juga lah. Sebab sia-sia usaha aku untuk berkongsi hasil karya menarik yang tak semua orang pernah, sedang, atau akan teroka. Aku rasa sedih juga sebab tak ramai juga orang yang buat macam tu. Jadi aku pun kuranglah peluang untuk menambahkan ilmu yang secetek tapak kaki ni.
Apapun, sayang kalau aku tak kongsi yang ini. Ini datangnya daripada cerita Ikal dengan ayah dia bila dia dapat tempat ke 75 peperiksaan daripada tempat ke 3. Cerita ni agak panjang. Tapi cerita ni bermakna bagi aku. Buat aku ingat pada orang di rumah. Buat aku rasa lebih bersyukur dan ingin lebih berusaha. Mungkin kau tak rasa apa-apa sesudah baca. Percayalah, aku takkan salahkan kau. Kita ada kemungkinan untuk menilai satu-satu benda dari jendela yang berbeza.
****
"Pagi-pagi sekali aku dan Arai telah menunggu ayahku dengan harapan yang amat tipis beliau akan datang. Dan kami maklum jika beliau enggan bersusah payah berangkat pagi buta mengayuh sepeda tiga puluh kilometer, melewati dua bukit dan padang, hanya untuk dipermalukan.
Sejak mengetahui aku terdepak dari garda depan karena kepicikanku sendiri, Arai sudah malas bicara denganku. Aku gelisah menyaksikan para orangtua murid berduyun-duyun menuju aula. Mataku lekat memandangi jalan di luar gerbang sekolah. Ayahku tak kunjung tiba. Arai menatapku benci. Hatiku hampa.
Tapi tiba-tiba mataku silau melihat kap lampu aluminium putih dari sepeda yang dikayuh seorang pria berbaju safari empat saku. Ia mengayuh sepedanya kelelahan, terseok-seok, dan semakin cepat ketika melihat kami. Berhenti di depan kami, pria itu menyeka keringatnya. Aku tertegun dan dadaku sesak melihat lipatan rapi baju safari itu, sepatu dan ikat pinggangnya yang mengilap, serta kumis dan rambutnya yang dicukur rapi. Beliau akan duduk di kursi nomor 75 namun beliau tetap cuti dua hari, dan tetap melakukan prosedur yang sama, dengan suasana hati yang sama, untuk mengambil raporku. Harum daun pandan dari baju safari ayahku membuat air mataku mengalir. Meskipun akan kupermalukan, ibuku tetap merendam daun pandan sehari semalam untuk menyetrika baju safari ayahku. Dan ayahku dengan senang hati datang jauh-jauh mengambil raporku dengan bajunya yang terbaik, dengan bajunya yang paling wangi. Aku tak mampu bicara ketika beliau menyapa kami dengan salam pelan 'Assalamu'alaiku,' tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak kami dengan bangga, persis sama seperti kebiasaannya selalu.
Membayangkan apa yang dialami ayahku di dalam aula, kurasakan seakan langit mengutukku dan bangunan sekolah rubuh menimpaku. Tak lagi kudengar tepuk tangan ketika nama ayahku dipanggil untuk mengambil raporku. Yang kudengar hanya kasak-kusuk bertanya mengapa prestasi sekolahku sampai anjlok begitu. Bagaimana ayahku yang pendiam akan menjawab berondongan pertanyaan yang hanya akan menyakitinya? Aku terpuruk dalam penyesalan. Betapa aku ini anak tak berguna!! Betapa sampai hati pada ayahku.
Sungguh berat detik demi detik kulalui menunggu ayahku keluar dari aula. Dan akhirnya, beliau meninggalkan aula. Langkahnya tetap tenang seperti dulu aku masih berprestasi. Senyum itu adalah senyum kebanggaan khas beliau yang tak sedikit pun luntur, persis seperti dulu ketika aku masih di garda depan. Ketika beliau menatap kami satu per satu, masih jelas kesan bahwa apa pun yang terjadi, bagaimanapun keadaan kami, kami tetaplah pahlawan baginya. Beliau senantiasa menerima apa pun adanya kami. Aku tertunduk diam, hatiku hancur dan air mataku kembali mengalir. Seperti kebiasaannya, beliau menepuk-nepuk lembut pundak kami dan mengucapkan sepatah kata salam dengan pelan. Aku tersedu sedan melihat ayahku menaiki sepedanya dan tertatih-tatih mengayuhnya meninggalkanku. Dadaku ingin meledak memandangi pungguh ayahku perlahan-lahan meninggalkan halaman sekolah.
'Puaskah kau sekarang!!??' Arai menumpahkan kemarahannya padaku.
Aku membelakanginya.
'Itukah maumu? Melukai hatinya??'
Aku masih membelakangi Arai karena aku tak ingin ia melihat pipiku basah.
'Apa yang akan terjadi denganmu, Ikal?? Mengapa jadi begini sekolahmu? Ke mana semangat itu?? Mimpi-mimpi itu??!!'
Arai geram sekali. Ia tak habis mengerti padaku.
'Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!'
Aku tersentak dan terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai berdesingan dalam telingaku, membakar hatiku.
'Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati...'
Aku merasa beku, serasa disiram seember air es.
'Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah, atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita takkan pernah mendahului nasib kita!!'
Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. Pesismistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.
'Kita lakukan yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Perancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almameter Sorbonne! Apa pun yang terjadi!!'
Arai berteriak. Suaranya lantang memenuhi lapangan luas sekolah kami, menerobos ruang-ruang gelap kepicikan dalam kepalaku. Kata-katanya itu seperti sumbu aki yang men-charge baterai dalam tubuhku.
Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang selalu diam, tak pernah menuntut apa pun. Aku bergetar. Kupandangi jalan lurus di depanku, berpuluh-puluh kilometer menuju kampungku. Aku ingin menyusul ayahku dan aku mulai berlari. Aku melintasi halaman sekolah, kompleks perkantoran, dan pasar. Aku berlari melalui kampung-kampung kecil sampai keluar Magai, tapi aku tak melihat ayahku. Beliau jauh di depan. Matahari sudah condong, aku berlari di atas aspal yang panas. Aku maraton tak berhenti. Aku menolak ajakan kendaraan-kendaraan yang melewatiku. Aku kelelahan tapi aku akan berlari dan terus berlari sampai kujumpai ayahku. Kini aku sampai di jalan panjang yang tampak seperti garis hitam membelah padang sabana yang luas. Semak belukar meliuk-liuk keemasan disirami cahaya matahari, bergulung-gulung diaduk angin yang terlepas bebas. Di sana, di ujung garis yang sunyi itu kulihat satu noktah, ayahku!! Aku berlari semakin kencang seperti layangan kertas kajang berwarna-warni, seperti orang Indian. Aku berlari sampai perih kaki-kakiku. Aku berhasil menyusul ayahku ketika beliau sudah berada di tengah Jembatan Lenggang. Saat aku berlari di samping sepedanya, ayahku terkejut dan tersenyum. Sebuah senyuman lembut penuh kebanggaan.
'Ikal...,' katanya.
Kuambil alih mengayuh sepedanya, beliau duduk di belakang. Tangan kulinya yang kasar dan tua memeluk pinggangku. Ayah yang pendiam: ayah juara satu seluruh dunia. Matahari sore yang hangat bercampur dengan angin yang dingin, membelai-belai kami melalui jembatan kayu. Di bawah kami sungai purba Lenggang mengalir pelan. Gelap dan dalam. Hulunya menyimpan sejarah pilu orang-orang miskin Melayu, anak-anak sungainya adalah misteri yang mengandung tenaga mistis, dan riak-riaknya yang berkecipuk siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku."
***
Sekian.
Terima kasih kalau baca sampai habis.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan