Rabu, 22 Januari 2014

Perihal Mulia

"Sebagaimana sudah adat dunia, akal tak sama, nasib tak sama, sebab itu ada yang kaya, ada yang miskin. Yang kaya sebagai Usman bin Affan, Abu Ubaidah, Zubir bin Awam, Abd. Rahman bin Auf, mereka mempunyai rumah yang indah, gedung bagus, unta ternak perniagaan besar. Ada yang miskin sebagai Abu Hurairah, Abu Darda', Abu Dzar, dan lain2. Yang miskin itu tinggal didalam kamar "Suffah" yaitu suatu kamar yang disediakan disamping mesjid, buat orang2 yang tidak ada rumah tangga, makanannya ditanggung oleh penduduk Madinah.

Adakah yang kaya bangga karena kekayaannya, dan yang miskin merasa dirinya hina karena kekurangannya? Tidak ada! Mereka semuanya tetap diperhubungkan oleh kasih mesra yang tidak terhingga. Mereka bersusun menjadi makmum dibelakang Rasulullah. Walaupun siapa, mendapat pahala lebih, jika dia duduk disaf yang pertama. Rasul berkata: "Berbahagialah pemuda yang hatinya terlekat kemesjid". Tetapi dilarangnya Abu Umamah, karena duduk dimesjid sebelum waktu sembahyang, diwaktu mesti menchari penghidupan.

Siapakah yang lebih mulia? Yang kayakah atau yang miskin? Yang berbangsa Quraishkah atau hamba sahaya yang dimerdekakan?

Yang mulia ialah siapa yang lebih takwa kepada Allah."

Tiada ulasan:

Catat Ulasan