Sabtu, 6 September 2014

Arti sahabat

"Sudah lama saya perhatikan hal-ihwalmu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mau membagi-bagi kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing, apabila jauh dari tanah air, sewajibnyalah saya engkau beri tahu, apakah yang menyusahkan hatimu sekarang, shingga banyak perubahanmu dari pada yang biasa?"

Ia melihat kepada saya tenang-tenang.

"Katakanlah kepada saya, wahai sahabat!" ujar saya pula. "Saya akan menolong engkau sekedar tenaga yang ada pada saya. Karena meskipun kita belum lama bergaul, saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan engkau kepada diri saya."

"Ini satu rahasia tuan!" katanya.

"Akan saya pikul rahasia itu jika engkau percaya padaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya ke dalam hatiku lagi."

Mendengar ucapan saya itu mukanya kembali tenang dan ia berkata, "Jika telah demikian tuan berjanji, tentu tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuhan, karena kebaikan budi tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal dari pada tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah perkuburan."

Air mata saya terpercik mendengarkan pekataannya itu.

Dipetik dari Di Bawah Lindungan Ka'bah, punyanya HAMKA.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan