Ahad, 7 September 2014

Kisah Cinta Teladan (bahagian 2)

"Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu."

"Rahasia apa ibu?"

"Engkau cinta pada Zainab!"

"Ah, tidak ibu, itu barang yang amat mustahil dan itulah yang sangat anakanda takuti. Anakanda tak cinta kepadanya dan takut akan cinta, anakanda belum kenal "cinta". Anakanda takkan memperbuat barang yang sia-sia dan percuma, anakanda tahu bahwa jika anakanda mencurahkan cinta kepadanya takkan ubahnya dengan seorang yang mencurahkan semangkuk air tawar ke dalam lautan yang mahaluas; laut takkan berubah sifatnya karena semangkuk air tawar itu."

"Wahai anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahwa engkau sedang diserang penyakit cinta. Takut akan cinta, itulah dua sifat dari pada cinta; cinta itulah yang telah merupakan dirinya menjadi suatu ketakutan, cinta itu kerap kali berupa putus harapan, takut, cemburu, ibahati dan kadang-kadang berani. Di hadapan ibumu yang telah lama merasai pahit manis kehidupan tidaklah dapat engkau sembunyikan lagi. Mataku telah kabur, tetapi hatiku masih terang benderang."

"Anakku ... sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurutkan pendapat otak. Dia belum berbahaya sebelum mendalam. Kalau dia telah mendalam, kerap kali - kalau yang kena cinta tak pandai - ia merusakkan kemauan dan kekerasan hati laki-laki. Kalau engkau perturutkan tentu engkau menjadi seorang anak yang putus asa, apalagi kalau cinta itu tertolak, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada di sekelilingnya ..."

"Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditimbul-timbulkan juga. Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutera tak sebangsa dengan benang."

"Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat, sekarang tak ada lagi, artinya telah putus tali yang memperhubungkan kita dengan rumah tangga orang di sana. Meskipun ibu Zainab seorang perempuan yang penuh dengan budi pekerti, tentu saja kebaikannya kepada kita tidak lagi sebagai di masa suaminya hidup. Apalagi kaum-kerabat mereka yang bertali darah, sudah banyak yang akan turut mengatur keadaan pergaulan rumah itu, yaitu orang-orang yang baru tiada mengenal kita."

"Memang anak, ... cinta "adil" sifatnya, Allah telah mentakdirkan dia dalam keadilan, tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang yang minta-minta, tiada menyisihkan orang kaya dengan orang miskin, orang hina dengan orang mulia, bahkan kadang-kadang tiada juga berbeda baginya antara bangsa dengan bangsa. Tetapi aturan pergaulan hidup, tidak membiarkan yang demikian itu berlaku. Orang sebagai kita ini telah dicap dengan "derajat bawah" atau "orang kebanyakan", sedang mereka diberi nama "cabang atas", cabang atas ada kalanya karena pangkat dan ada kalanya karena harta benda. Cincin emas, orang yang merasa sayang hendak memberi bermata kaca, tentu zambrut dan nilam juga. Orang merasa sayang membuang emas, akan pengikat batu yang sudah diasah oleh rantai perintang-rintang hatinya, karena lama menanggung dalam penjara."

Dipetik dari Di Bawah Lindungan Ka'bah, punyanya HAMKA.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan