"Agaknya engkau pandang rendah saya ini. Ros, mencintai seorang yang tiada sekedudukan dengan diri sendiri, dan jauh tak tentu tempatnya. "
"Waktu itu isteriku menjawa," kata Saleh, ujarnya, "Tidak, Nab, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lain menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasa, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Saya tiada hendak menghinakan engkau karena engkau jatuh cinta kepadanya, dan saya banyak pula membaca dalam buku-buku, bahwa biasanya cinta yang suci bersih itu tidaklah tumbuh dengan sendirinya. Karena jiwa itu bertemu dalam batin, dalam azal kejadian Allah, sebelum badan kasar manusia ini berkenalan. Itulah kuasa ghaib yang perlu kita percaya. Sebab itu saya percaya, bahwa cintamu tak jatuh ke pasir, tentu Hamid mencintai engkau pula; tidaklah jiwa engkau akan tertarik mengingat dia, kalau kiranya jiwanya tak mengingat engkau pula. Hati orang yang bercinta mempunyai mata, ia dapat melihat barang yang tak dilihat oleh orang lain."
Dipetik dari Di Bawah Lindungan Ka'bah, punyanya HAMKA.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan