Ahad, 7 September 2014

Kisah Cinta Teladan (bahagian 5)

"Apakah keuntungan dan bahagianya cinta yang tiada berpengharapan?" tanya saya dengan tiba-tiba kepadanya.

"Bukankah cinta itu sudah satu keuntungan dan satu pengharapan, Hamid?" tanyanya pula.

...

"Tuhan!" ... telah bertahun-tahun saya berjalan di dalam gelap gulita, tidak tentu tanah yang akan saya tempuh, tidak kelihatan suatu bintang pun di atas halaman langit akan saya jadikan pedoman dalam menuju perjalanan itu. Demi setelah sampai berita yang demikian, seakan-akan kegelapan itu terang dari sedikit ke sedikit, sebab dari timur mengelemantang cahaya fajar, cahaya yang saya nanti-nanti. Cahaya itu lebih benderang dari pada cahaya surya, lebih nyaman dari cahaya bulan dan lebih dingin dari kelap-kelip bintang-bintang.

Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia yang datang menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga. Sekarang saya telah lepas dari pada pembuangan, saya telah dibolehkan pulang dan beroleh ampun, telah ada manusia, yang lalu lintas, telah hilang haus dan dahaga. Sekarang baru saya tahu, baru saya mengerti, bahwa sukacita itu ada juga dijadikan Tuhan di dalam dunia fana ini.

Dahulu, kalau disebut orang di dekat saya untung dan bahagia, tidak lain yang terlintas dalam pikiran saya dari rumah yang indah, gedung yang permai, wang berbilang, mas bertahil, cukup dengan kendaraan dan kehormatan, dijunjung orang ke mana pergi. Sekarang saya insaf, bahwa semua itu bukan untung bahagia. Untung bahagia sejati ialah jika tahu, bahwa kita bukan hidup terbuang di dalam dunia ini, tetapi ada orang yang mencintai kita."

Dipetik dari Di Bawah Lindungan Ka'bah, punyanya HAMKA.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan