"Cinta itu adalah jiwa; antara cinta yang sejati dengan jiwa yang tidak dapat dipisahkan, cinta pun merdeka sebagaimana jiwa. Ia tidak memperbedakan di antara derajat dan bangsa, di antara kaya dan miskin, mulia dan papa. Demikianlah jiwa saya, di luar daripada kekang kerendahan saya dan kemuliaannya; saya merasai, bahwa Zainab adalah diri saya. Saya merasa ingat kepadanya bahwa Zainab adalah kemestian hidup saya, rindu kepadanya membukakan pintu angan-angan saya menghadapi zaman yang akan datang.
Dahulu saya tiada perdulikan hal itu, tetapi setelah saya besar dan terpisah dari padanya, barulah saya insaf, bahwa kalau bukan didekatnya, saya berasa kehilangan.
Mustahil dia akan dapat menerima cinta saya, karena dia langit dan saya bumi, bangsanya tinggi dan saya hidup daripadanya tempat buat lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tuanya bermenantu, mustahil pula saya akan termasuk dalam golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu engku Haji Ja'far. Karena tidak ada yang akan dapat diharapkan dari saya. Tetapi tuan ... kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta."
Dipetik dari Di Bawah Lindungan Ka'bah, punyanya HAMKA.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan